Mar 15, 2020 Perkonomian

Masalah Ketenagakerjaan Makin Kompleks Akibat Pandemi, Ruu Cipta Kerja Diharapkan Jadi Terobosan

Kedua satuan tugas itu berada di bawah Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional . Hingga saat ini belum ada terobosan yang berarti dalam pengembangan obat atau vaksin yang efektif untuk penyakit ini. Otoritas dan pakar nasional dan internasional menyarankan penggunaan tindakan non-farmasi seperti memakai masker wajah dan sarung tangan, mencuci tangan dengan sabun, sering menggunakan larutan anti septik dan menjaga jarak sosial. Pemerintah dari sebagian besar negara yang terkena dampak juga mulai membatasi pergerakan orang agar mengurangi penyebaran virus.

Masyarakat Indonesia punya optimisme tinggi bahwa ekonomi bisa segera pulih dan pandemi COVID-19 bisa dilalui dengan baik. Sejumlah sentra penjualan buku bekas yang dulu ramai pengunjung kini kondisinya merana. Paduan antara minat baca yang Agen Bola Online rendah, disrupsi teknologi digital, dan pandemi membuat sentra buku bekas tertekan. Dia mengatakan, hal tersebut diperlukan karena jika produktivitas pekerja dapat ditingkatkan, maka diharapkan tingkat upah mereka juga akan lebih baik.

Kecemasan dan rasa tidak aman yang dialami sebagian besar dari kita harus bisa disikapi dengan rasional agar kita bisa bertahan hidup dan juga membantu orang lain bertahan. Penerapan pola hidup sehat dan mengikuti anjuran pemerintah juga harus kita lakukan sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19. Dari sisi profil pekerja, lanjut dia, karyawan yang tidak bekerja penuh waktu tercatat paling terdampak sebesar 67 persen. Kemudian seventy four persen pekerja yang mengalami kesulitan akibat wabah rata-rata berpenghasilan Rp2,7 juta per bulan. Resiko terhadap kesehatan semakin tinggi dan secara ekonomi akan mempengaruhi pada tingkat produktivitas biaya perawatan yang tinggi akibat banyaknya yang terdampak.

SMERU Research Institute, lembaga independen yang melakukan penelitian dan kajian publik, pada Agustus 2020 merilis catatan kebijakan mereka yang berjudul “Mengantisipasi Potensi Dampak Krisis Akibat Pandemi COVID-19 terhadap Sektor Ketenagakerjaan”.

Pandemi Covid-19 akan berimplikasi buruk bagi perekonomian dunia dan Indonesia pada tahun ini, karena terjadi bersamaan dengan menurunnya harga komoditas dan gejolak pasar keuangan. Namun, pada tahun 2021 inflasi diyakini kembali ke level normal, yakni 2,8 persen. Hal ini diakibatkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi karena pandemi Covid-19. Keterlambatan ini ditandai dengan memburuknya kondisi lingkungan eksternal dan melemahnya permintaan dalam negeri seiring dengan menurunnya sentimen bisnis dan konsumen. Praktisi Hukum Ketenagakerjaan Juanda Pangaribuan mengatakan sedikitnya ada four masalah ketenagakerjaan yang muncul akibat Covid-19. Pertama, pada saat pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar sebagian perusahaan tidak boleh beroperasi.

Adanya kebijakan stimulus ekonomi dari pemerintah dapat mendorong lembaga keungan bank dan non bank agar dapat kompetitif dan efisien melalui peningkatan skala usaha dan transformasi digital. Diharpakan dengan ini, UMKM dapat bangkit dan tetap eksis bertahan di tengah pandemic Covid-19. Dengan adanya stimulus untuk industri perbankan yang sudah berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021. Perbankan diharpakan dapat proaktif dalam mengidentifikasi debitur-debiturnya yang terkena dampak virus Covid-19.

Akibat dari Pandemi

Presiden Jokowi meminta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menjaga pertumbuhan investasi agar tak minus di atas 5 persen. Menurut dia, kebijakan perdagangan harus menjamin ketersediaan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Kemudian, menjamin stabilitas harga hingga menghidupkan sektor perekonomian yang sempat terganggu akibat krisis. Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional /Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan, banyak masyarakat kehilangan jam kerja dan penghasilan karena pembatasan aktivitas selama pandemi.

Keputusan ini diambil menyusul Organisasi kesehatan dunian atau WHO menetapkan status global terkait Covid-19, Peluang ini akan meningkatkan kesejahteraan para petani beserta keluarganya. Kesempatan ini menjadi peluang pasar untuk beberapa bulan kedepan dan bahkan untuk pembangunan pertanian berkelanjutan. Sementara Indonesia menyiapkan anggaran sebesar Rp695,20 triliun atau setara dengan four,2% PDB sebagai stimulus di masa pandemi.